Sabtu, 29 Oktober 2011

Komodo: populasi, habitat, dan endemisme

Endemisme

Endemisme dalam ekologi adalah gejala yang dialami oleh organisme untuk menjadi unik pada satu lokasi geografi tertentu, seperti pulau, lungkang (niche), negara, atau zona ekologi tertentu. Untuk dapat dikatakan endemik suatu organisme harus ditemukan hanya di suatu tempat dan tidak ditemukan di tempat lain. Contohnya adalah jalak bali, hanya ditemukan di Taman Nasional Bali Barat di Pulau Bali. Faktor fisik, iklim, dan biologis dapat menyebabkan endemisme. Sebagai misal, babi rusa menjadi endemik karena isolasi geografi yang dialaminya dan tantangan ruang hidupnya di Pulau Sulawesi menyebabkan ia menjadi berbentuk khas.
Wilayah dengan keanekaragaman hayati tinggi tidak berarti merupakan daerah dengan tingkat endemisme tinggi, meskipun kemungkinan untuk dihuni oleh organisme endemik menjadi meningkat.

Beberapa ancaman terhadap wilayah dengan endemisme tinggi adalah penebangan hutan secara berlebihan serta metode pembukaan lahan dengan cara membakar hutan. Dua faktor ini umumnya didapati pada negara-negara dengan populasi yang tinggi.

Rabu, 24 Agustus 2011

TUGAS Matrikulasi STATISTIKA, IPASL 2011

Dear All,
Berikut ini adalah sekumpulan data yang harus anda olah. Tentukanlah ciri-ciri dari populasi atau sampel ini. Kumpulkan di akhir jam kuliah pada hari Rabu, 24 Agustus 2011

Selasa, 22 Maret 2011

(bahan kuliah mk. sistem agroforestri, fapet, Undana) justifikasi sistem agrosilvopastoral dalam pengelolaan hutan di NTT

Strategi Mereduksi Bahaya Penggembalaan

Suatu kajian menarik yang dilakukan di kawasan Hutan CA Mutis-Timau oleh Tim WWF Nusra (2003) memberikan petunjuk sebagai berikut. Dilaporkan bahwa cukup tinggi persentasi responden (92.5%) yang paham bahwa hutan Mutis Timau perlu dikonservasi justru karena merupakan sumber-sumber pemenuhan kebutuhan mereka sendiri seperti air dan kayu, selain alasan budaya. Terdapat 89% responden menolak penebangan hutan, 75% menolak konversi hutan menjadi lahan pertanian, 76% menolak aktivitas perburuan margasatwa tetapi terdapat 51% responden menolak untuk tidak menggembalakan sapi di dalam kawasan hutan. Alasan yang dikemukakan antara lain ternak tidak merusak pohon, ternak dapat mengurangi kebakaran hutan dan karena praktek pengembalaan merupakan tradisi sejak nenek moyang.

Senin, 21 Maret 2011

makalah tentang sabu (bahan kuliah mk. inventarisasi SDA, ipsal, Undana)

Strategi Pembangunan Pulau Sabu Dalam Perspektif Ekologi

Oleh
Ludji Michael Riwu Kaho
(disampaikan dalam pertemuan Permasa di Kupang, Mei 2005)

Jika orang membuka peta Indonesia pada skala 1: 13.000.000 atau lebih maka hampir dapat dipastikan Pulau Sabu tidak ditemukan di sana. Penyebab satu hal saja, Pulau Sabu berukuran sangat kecil. Bahkan, bukan saja sangat kecil tetapi juga sangat terisolir. Keadaan ini tidak harus dijadikan alasan untuk bermuram durja. Sebaliknya, harus dijadikan tantangan untuk mengatasi kompleks permasalahan yang terjadi akibat situasi demikian.

Kamis, 04 Maret 2010

http://regional.kompas.com/read/2010/03/04/12410810/Sumba.Timur.Potensial.Jadi.Padang.Gurun

Kamis, 4 Maret 2010 | 12:41 WIB


KUPANG, KOMPAS.com — Kabupaten Sumba Timur di Provinsi Nusa Tenggara Timur berpotensi menjadi gurun akibat proses penghilangan vegetasi dan penurunan kelembaban tanah di wilayah timur Pulau Sumba itu. Demikian dikemukakan seorang peneliti ilmu kehutanan dari Universitas Nusa Cendana, Kupang, Dr L Michael Riwu Kaho, di Kupang, Kamis.

Senin, 01 Maret 2010

mutis dan wairinding, apa masalahnya? (bahan untuk Pak Frans Sarong - KOMPAS)

MUTIS DAN WAIRINDING, APA MASALAHNYA

Oleh
L. Michael Riwu Kaho
(Dosen Undana, Doktor dalam Bidang Ilmu Kehutanan)

Kawasan Hutan Cagar Alam (CA) Mutis-Timau, seluas ± 75.000 ha + 12 .000 ha yang ditetapkan sebagai kawasan inti CA, merupakan kawasan hutan yang seharusnya, menurut ketentuan kawasan yang dilindungi, terbebas dari upaya eksploitasi sumberdaya alam. Akan tetapi secara tradisional kawasan ini telah dihuni oleh sekelompok populasi dari etnolinguistik tertentu, atoin meto, yang menganggap bahwa daerah Mutis dan sekitarnya adalah ruang hidup mereka. Mempertemukan dua kepentingan ini merupakan suatu dinamika etika lingkungan yang bersifat dilematik, karena dua kepentingan tersebut memiliki dinamik yang terkadang bertabrakan secara diametral. Di satu sisi hutan Mutis harus di lindungi tetapi dinamika perkembangan populasi dan cara-cara pemenuhan kebutuhan bahan makanannya membutuhkan kawasan hutan Mutis sebagai sumberdaya. Dalam situasi dilematis seperti ini kelestarian Cagar Alam (CA) hutan Mutis terancam karena pola penggunaan sumberdaya secara tradisional, antara lain penggembalaan bebas dan perladangan tebas bakar, dikhawatirkan menimbulkan entropi lingkungan.

bahan kuliah 2, MK Pengendalian Kebakaran dan Penggembalaan Liar, Prodihut, S1

Fakta Empirik Kebakaran dan Penggembalaan Liar di Indonesia  Musim kemarau panjang di Indonesia identik dengan masalah akut seputar...