Rabu, 04 Maret 2009

pengantar sistem agroforestri

Agroforestri dalam bahasa Indonesia disebut sebagai wanatani. Dengan demikian sisem agroforestri adalah sistem wanatani, Apa yang dimaksudkan dengan sistem Wanatani? Ikuti artiel berikut ini yang saya sitasi dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

apa itu wanatani

Wanatani atau agroforest adalah suatu bentuk pengelolaan sumberdaya yang memadukan kegiatan pengelolaan hutan atau pohon kayu-kayuan dengan penanaman komoditas atau tanaman jangka pendek, seperti tanaman pertanian. Model-model wanatani bervariasi mulai dari wanatani sederhana berupa kombinasi penanaman sejenis pohon dengan satu-dua jenis komoditas pertanian, hingga ke wanatani kompleks yang memadukan pengelolaan banyak spesies pohon dengan aneka jenis tanaman pertanian, dan bahkan juga dengan ternak atau perikanan.

Dalam bentuk yang dikenal umum, wanatani ini mencakup rupa-rupa kebun campuran, tegalan berpohon, ladang, lahan bera (belukar), kebun pekarangan, hingga hutan-hutan tanaman rakyat yang lebih kaya jenis seperti yang dikenal dalam rupa talun di Jawa Barat, repong di Lampung Barat, parak di Sumatra Barat, tembawang (tiwmawakng) di Kalimantan Barat, simpung (simpukng) di Kalimantan Timur, dan lain-lain bentuk di berbagai daerah di Indonesia.

Esensi wanatani

Aneka bentuk wanatani ini sebetulnya mencerminkan strategi pengelolaan sumberdaya oleh petani. Tidak seperti halnya perkebunan-perkebunan besar yang dikelola perusahaan, kebanyakan kebun atau hutan rakyat tidak dikelola hanya untuk menghasilkan satu komoditas atau produk. Petani umumnya mengharap kebun atau ladangnya dapat menghasilkan tanaman pangan utama (misalnya padi atau jagung), atau tanaman yang bernilai ekonomi tinggi (seperti kopi, cengkeh, karet dll.), ditambah dengan produk-produk lain yang sifatnya subsisten seperti kayu bakar, tanaman rempah dan obat, pakan ternak, aneka hasil lainnya.

Variasi unsur-unsur dalam wanatani itu kurang lebih dapat disederhanakan, sbb.:

  • perpaduan antara tanaman keras (jangka panjang: pohon-pohonan) dengan tanaman semusim (pertanian jangka pendek)
  • perpaduan tanaman utama (sumber pangan, komoditas ekonomi) dengan tanaman sampingan
  • perpaduan tanaman penghasil dengan tanaman pendukung (misalnya kopi atau kakao, dengan pohon-pohon peneduhnya)
  • perpaduan tanaman dengan musim atau umur panen berbeda-beda: padi ladang, mentimun, kopi, damar matakucing, durian.
  • perpaduan pengelolaan pohon-pohonan dengan perikanan (tambak, balong, embung), dikenal juga dengan istilah silvofishery
  • perpaduan dengan pemeliharaan ternak (silvopasture) atau pemeliharaan lebah: hutan sebagai penghasil pakan ternak atau lebah, seperti di NTT dan NTB

Wanatani sederhana

Seperti yang dicerminkan oleh namanya, wanatani sederhana terdiri dari sejumlah kecil unsur penyusun sistem: satu atau dua jenis pohon bercampur dengan satu atau beberapa jenis tanaman pertanian.

petani untuk memaksimalkan hasil, terutama di wilayah-wilayah padat penduduk. Pohon-pohon turi, randu, atau jati kerap ditanam pada pematang atau sebagai pembatas petak-petak sawah atau tegalan, di mana tanaman semusim ditanam. Turi membantu menyuburkan tanah dan bunganya dimanfaatkan sebagai sayuran; randu menghasilkan buah kapuk; dan dari jati diharapkan kayunya yang mahal harganya. Bentuk lain adalah pertanaman jeruk atau mangga, yang ditanam pada gundukan-gundukan tanah di tengah sawah.

Pada sisi yang lain, pola yang mirip dimanfaatkan dalam membangun hutan. Pola tumpangsari dalam menanam hutan jati atau hutan pinus di Jawa, adalah satu bentuk wanatani sederhana. Dalam tumpangsari, petani pesanggem dibolehkan memelihara padi ladang, jagung, ketela pohon dan lain-lain di sela-sela larikan tanaman pokok kehutanan (jati, pinus, dll.) yang baru ditanam. Biasanya pada tahun ketiga atau keempat, setelah tanaman hutannya merimbun dan menaungi tanah, kontrak tumpangsari ini berakhir.

Ilmu agroforestri klasik (classic agroforestry) banyak berkutat dengan model-model wanatani sederhana ini.

Wanatani kompleks

Wanatani kompleks (complex agroforestry systems) atau wanatani sejati merupakan perpaduan rumit pelbagai unsur wanatani di atas, yang pada gilirannya juga memberikan aneka hasil atau manfaat pada rentang waktu dan interaksi yang tidak terbatas. Pada akhirnya, wanatani ini memiliki struktur dan dinamika ekosistem yang mirip dengan hutan alam, dengan keanekaragaman jenis flora dan fauna yang relatif tinggi.

Wanatani kompleks merupakan perkembangan lanjut dari wanatani sederhana, meski kebanyakan pola wanatani sederhana yang telah mantap tidak selalu bertumbuh terus menjadi sistem yang lebih rumit. Selain ditentukan oleh kepadatan penduduk dan –sebagai konsekuensinya– keterbatasan lahan, tidak berkembangnya wanatani sederhana menjadi kompleks kemungkinan besar juga ditentukan oleh iklim dan kondisi tanah setempat. Budaya wanatani kompleks sejauh ini berkembang di daerah-daerah yang semula merupakan hutan hujan tropika yang memiliki struktur mirip.

Hampir selalu, wanatani kompleks berawal dari ladang yang diperkaya. Sistem perladangan biasanya dimulai dengan membuka hutan primer atau hutan sekunder, menebangi dan membakar kayu-kayunya, dan menanaminya dengan tanaman pangan atau sayur mayur selama satu atau dua daur. Setelah itu ladang diperkaya dengan tanaman keras seperti kopi atau kakao, atau rotan, yang hasilnya dapat dipanen antara tahun ke-5 sampai ke-15; atau dibiarkan meliar sebagai lahan bera dan kemudian menjadi hutan belukar kembali. Kelak, hutan belukar akan dibuka kembali sebagai ladang apabila dirasa kesuburan tanahnya telah dapat dipulihkan.

Dalam kasus wanatani kompleks, ladang yang telah diperkaya tidak kemudian dibiarkan meliar menjadi belukar, melainkan diperkaya lebih lanjut dengan jenis-jenis pohon yang menghasilkan. Seperti misalnya pohon-pohon penghasil buah (durian, duku, cempedak, petai, dll.), getah (damar matakucing, karet, kemenyan, rambung), kayu-kayuan atau kayu bakar, dan lain-lain. Setelah berselang belasan tahun, ladang ini telah berubah menjadi hutan buatan yang menghasilkan aneka jenis produk, yang mampu bertahan hingga berpuluh-puluh tahun ke depan.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Tugas padang pengembalaan tropika
oleh
Gerson F. Bira (0605020018)


4 Jenis leguminosa


A.Pueraria = kudzu

Genus pueraria adalah termasuk legume dari sub-familia papilionaceae berasal dari asia bagian timur dan kepulauan pasifik, bersifar membelit, merambat, dapat membentuk semak yang rimbun dengan perakaran yang kuat dengan pokok akar yang disebut mahkota (crown). Beberapa species digunakan terutama untuk mencegah erosi, sebagai penutup tanah, untuk makanan ternak (hay).dalam keadaan klimat kudzu tidak menghasilkan biji, meskipun dapat berbunga lebat yang berwarna ungu indah.
Di asia dan Indonesia, kudzu tropic ditanam di perkebunan – perkebunan karet dan kelapa sawit,dimana legume ini tahan sedikit naungan. Legume ini baik untuk ternak karena :
1)Disukai ternak, sekali ternak merasakan
2)Kadar protein tinggi dan hasil bahan kering juga tergolong tinggi diantara legume
3)Setelah pertanaman jadi,hijauan lebat dan tahan terhadap pengembalaan
4)Tanaman relative tahan kekeringan yang tak terlalu panjang, tetap hijau 2 bulan setelah hujan berakhir.


B.Leucaena glauca BENTH
(leucaena leucocephala)

Genus leucaena mempunyai 10 species tang berupa pohon, belukar yang tidak berduri dan selalu hijau berasal dari amerika tengah dan selatan serta kepulauan pasifik.lamtoro berakar dalam, mampunyai ketinggian antara 6.5 sampai 33 ft, daun – daunnya berkarang, berbunga dengan bola berwarna putih kekuning – kuningan atau merah muda.
Di Indonesia, lamtoro digunakan sebagai makanan ternak, dan bila sering dipotong akan menjadi tanaman rimbun bersemak yangberfungsi sebagai penutup tanah pencegah erosi dan pupuk hijau di perkebunan – perkebunan the, kopi, coklat, dan karet muda.bila lamtoro ditanam untuk makanan ternak, pemotongan dapat dilakukan 6 – 9 bulan. Lamtoro sering dikembangkan dengan biji yang tiap lb nya (0.4536 kg) mengandung 12000 butir biji.





C.Clitoria cajanifolia BENTH
(clitoria laurifolia POIR, neurocarpus cajanifolius PRESL)

Adalah legume yang termasuk sub – familia papilinoaceae yang kuat dan berakar dalam. Legum ini dapat hidup di tempat –tempat dengan ketinggian 2500 ft(762 m) dari permukaan laut. Legume ini dikembangkan dengan biji yang tiap lb nya (0.4536 kg) mengandung 13000 butir biji. Kadantg – kadang legum ini tumbuh pada tanah – tanah setinggi 600 m atau 1100 m diatas permukaan laut dengan hasil yang baik.
Legum ini berupa pohon yang ramping yang dapat memanjat sampai tinggi. Kegunaan legume ini terutama sebagai pencegah erosi dan penutup tanah, tetapi daun – daunnya dan polongannya yang masih muda dimakan ternak. Kadang – kadang Legum ini tumbuh liar dan sukar dibrantas karena sistem perakarannya yang dalam dan sifat menghasilkan biji yang banyak.

D.Crotalaria usaramoensis BAK

Legume ini termasuk sub – familia papilionaceae berasal dari pulau jawa dan tidak toksik untuk ternak. Legume ini biasa di pakai sebagai tanaman penutup tanah dan perbaikan tanah. Legume ini tidak begitu cepat tumbuhnya, tumbuhnya tegak dan biasanya ditanam di kebun the, kopi, karet.




4 Jenis rumput



A.Rumput brachiaria ruziziensis STAPF

Rumput ini merayap, perennial, dengan stolon panjang pada tiap buku batang stolon yang bersinggungan dengan tanah sehingga membentuk tanaman lebat. Rumput ini merupakan rumput yang baik untuk tanaman padangan tunggal atau dicampur dengan legume stylosanthes gracilis. Rumput di perbanyak dengan potongan – potongan batang atau stolon.produksi biji terjadi setelah tanaman berumur 12 bulan sesudah penanamannya.

B.Rumput brachiaria mutica FORSK dan STAPF

Rumput ini kaku, merayap, perennial, berakar pada tiap nodus batang, dengan tangkai bunga menyebabkan rumput dapat mencapai tinggi 2,5 m. rumput ini sebagai makanan ternak di daerah tropic basah dan tahan penggenangan air yang lama, tetapi tumbuhnya terhambat pada musim kering.

C.cenchrus ciliaris LINN

Rumput ini merupakan rumput padangan yang baik pada padang di daerah panas dan kering di tropic dan sub – tropic. Rumput ini membentuk rumpun yang lebat, perennial, kadang – kadang rhizomatous, dapat setinggi 15 cm – 20 cm. sifat tumbuhnya variabel yang merayap.


D.chloris gayana KUNTH

rumput ini berbatang langsing, perennial, membentuk rumpun tanaman yang lebat, mencapai ketinggian 60 – 150 cm, berkembang dengan stolon. Kadang – kadang bersifat annual. Perkembangan tanaman dengan penyebaran biji yang tiap ha tanah memerlukan 8 – 9 kg.

Anonim mengatakan...

nama :helena medho
nim :0605020017
Dari pengamatan saya melalui gambar,bahwa keadaan oenasi adalah sebagai berikut :
Dengan melihat ketinggian,dimana ditempat yang tinggi itu terdapat banyak sekali padang rumput dan disekelilingnya terdapat pohon jati putih,maka para peternak melepaskan ternaknya untuk merumput dan apalagi sudah ada tempat berteduhnya.Semakin rendah tempatnya terdapat ladang,dimana orang sengaja membuka ladang ditempat itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,karena sewaktu-waktu ladang akan selalu berpindah-pindah.Dengan adanya ladang pindah mereka membuat rumah sementara untuk istirahat pada waktu bekerja dan sebagai tempat penyimpanan hasil,beberapa meter ada tempat tinggal tetap.Semakin datar tempatnya orang masih memelihara ternak sapi paron karena masih ada padang rumput yang tumbuh dan juga pohon pelindung.Semakin datar lagi tempatnya maka terdapat laut dan dipesisir pantainya masih terdapat pohon-pohon yaitu pohon kelapa,hutan bakau.Semakin kedaratan yang agak tinggi tempatnya maka orang-orang akan semakin senang untuk berladang dan beternak karena ada padang rumput,ada kayu pelindung dan ada juga tempat yang cocok untuk berladang,karena tempat tinggalnya dekat sehingga tidak menyulitkan mereka.Semakin tinggi tempatnya lagi maka banyak terdapat padang rumput dan pohon pelindung sehingga banyak ternak sapi paron yang dipelihara ditempat itu.
Maka keadaan oenasi dapat disimpulkan bahwa padang rumput dan pohon-pohon itu lebih banyak tumbuh pada daerah atau tempat yang tinggi sehingga ternak-ternaknya dipelihara didaerah atau pada tempat yang tinggi juga. Orang-orang juga lebih banyak memiliki ladang yang berpindah-pindah dan tempat tinggalnya juga banyak yang selalu pindah-pindah sesuai dengan keadaan alam,sebagian kecil saja orang yang berladang dan beternak didaerah dataran rendah karena tanahnya kurang begitu subur atau dekat dengan laut.dapat disimpulkan juga bahwa memelihara ternak sapi paron yang cocok itu tergantung dari padang rumput dan berladang juga tergantung dari keadaan tanah dan tempat tinggal

Anonim mengatakan...

nama :agustina sia
nim: 0505021206
Sistim Pemgolahan Lahan Yang Berkelanjutan


Dari hasil pengamatan pada gambar dapat disimpulkan bahwa sistim pertanian terus berlanjut di sertai dengan perubahan yaitu:
 Pada tahun 1905 adalah yang pada awalnya terdapat padang rumput dan sedikit pepohonan.
 Pada tahun 1922 bahwa pada tahun ini terdapat padang rumput dan pepohonan sudah mulai banyak.
 Pada tahun 1930 adalah pada tahun ini dimana terdapat padang rumput, pepohonan dan juga ada ladang.
 Pada tahun 1960 bahwa pada tahun ini pepohonan sudah mulai berkurang, tetapi ada perubahan sudah mulai membuka ladang pertanian dan persawahan
 Pada tahun 1974 adalah pada tahun ini dimana pepohonan sudah mulai banyak, ada padang rumput, ada ladang pertanian dan persawahan maka pada tahun ini paling bagus untuk agroforestri.
 Pada tahun 1980 dalam hal ini bahwa dimana pada tahun ini kurang bagus karena pepohonan sudah mulai jarang sehingga erosi.

Anonim mengatakan...

httjjtt

bahan kuliah 2, MK Pengendalian Kebakaran dan Penggembalaan Liar, Prodihut, S1

Fakta Empirik Kebakaran dan Penggembalaan Liar di Indonesia  Musim kemarau panjang di Indonesia identik dengan masalah akut seputar...