Rabu, 25 Februari 2009

Pengertian Pertanian Lahan Kering (MK. Peternakan Lahan Kering - FAPET - UNDANA)

Sebenarnya defenisi tentang pertanian lahan kering masih belum disepakati benar. Kita hanya bisa mengacu kepada usulan-usulan dan kebiasaan - kebiasaan yang dianut. Perhatikan beberapa referensi berikut ini:

Wikipedia.org (Dryland farming - Wikipedia, the free encyclopedia)

Dryland farming is an agricultural technique for cultivating land which receives little rainfall. Dryland farming is used in the Great Plains, the Palouse plateau of Eastern Washington regions of North America, the Middle East and in other grain growing regions such as the steppes of Eurasia and Argentina. Dryland farming was introduced to the southern Russian Empire by Russian Mennonites under the influence of Johann Cornies, making the region the breadbasket of Russia.[1] Winter wheat is the typical crop although skilled dryland farmers sometimes grow corn, beans or even watermelons. Successful dryland farming is possible with as little as 15 inches (380 mm) of precipitation a year, but much more successful with 20 inches (510 mm) or more. It is also known that Native American tribes in the arid SouthWest subsisted for hundreds of years on dryland farming in areas with less than 10 inches (250 mm) of rain.

In marginal regions, a farmer should be financially able to survive occasional crop failures, perhaps of several years running. A soil which absorbs and holds moisture is helpful as is the practice of leaving stubble standing in the field to catch blowing snow.

There are many techniques to dry farm. Some common techniques are to pull weeds that suck moisture, plant seeds deep in the ground to get maximum moisture and fallowing the land. Another technique is to plant crops in every other row. This way the odd rows' moisture will be built up for 2 years. This technique uses a lot of space since the farmer is only using half the land for profit.

Berdasarkan uraian di atas, pengertian pertanian lahan kering tampaknya dibangun berdasarkan sejarah atau kebiasaan, yaitu sistem pertanian yang ada di daerah dengan curah hujan tahunan berkisar antara 250 mm (di USA) sampai 510 mm di Russia.

Akan tetapi coba perhatikan defensi berikut ini:


Lahan kering umumnya terdapat didataran tinggi (daerah pegunungan) yang ditandai dengan topografinya yang bergelombang dan merupakan daerah penerima dan peresap air hujan yang kemudian dialirkan kedataran rendah, baik melalui permukaan tanah (sungai) maupun melalui jaringan bumi air tanah. Jadi lahan kering didefinisikan sebagai dataran tinggi yang lahan pertaniannya lebih banyak menggantungkan diri pada curah hujan. Lahan kering diterjemahkan dari kata “upland” yang menunjukkan kepada gambaran “daerah atas” (Hasnudi dan Saleh, 2006)


Perhatikan pula usulan berikut ini:

Hingga saat ini takrif pengertian lahan kering di Indonesia belum disepakati benar. Di dalam bahasa Inggris banyak istilah-istilah yng dipadankan dengan lahan kering seperti upland, dryland dan unirrigated land, yang menyiratkan penggunan pertanian tadah hujan. Istilah upland farming, dryland farming dan rainfed farming dua istilah terakhir yang digunakan untuk pertanian di daerah bercurah hujan terbatas. Penertian upland mengandung arti lahan atasan yang merupakan lawan kata bawahan (lowland) yang terkait dengan kondisi drainase (Tejoyuwono, 1989) dalam Suwardji (2003). Sedangkan istilah unirrigated land biasanya digunakan untuk teknik pertanian yang tidak memiliki fasilitas irigasi. Namun pengertian lahan tidak beririgasi tidak memisahkan pengusahaan lahan dengan system sawah tadah hujan.

Untuk menghilangkan kerancuan pengertian lahan kering dengan istilah pertanian lahan kering Tejoyuwono (1989) dalam Suwardji (2003) menyarankan beberapa pengertian sebagai berikut:

  • untuk kawasan atau daerah yang memiliki jumlah evaporasi potensial melebihi jumlah curah hujan actual atau daerah yang jumlah curah hujannya tidak mencukupi untuk usaha pertanian tanpa irigasi disebut dengan “Daerah Kering”.
  • untuk lahan dengan draenase alamiah lancar dan bukan merupakan daerah dataran banjir, rawa, lahan dengan air tanah dangkal, atau lahan basah alamiah lain istilahnya lahan atasan atau Upland.
  • untuk lahan pertanian yang diusahakan tanpa penggenangan, istilahnya lahan kering.

Kesepakatan pengertian lahan kering dalam seminar nasional pengembangan wilayah lahan kering ke 3 di Lampung : (upland dan rainfed) adalah hamparan lahan yang didayagunakan tanpa penggenangan air, baik secara permanen maupun musiman dengan sumber air berupa hujan atau air irigasi (Suwardji, 2003)). Definisi yang diberikan oleh soil Survey Staffs (1998) dalam Haryati (2002), lahan kering adalah hamparan lahan yang tidak pernah tergenang atau digenangi air selama periode sebagian besar waktu dalam setahun. Tipologi lahan ini dapat dijumpai dari dataran rendah (0-700 m dpl) hingga dataran tinggi (> 700m dpl). Dari pengertian diatas, maka jenis penggunaan lahan yang termasuk dalam kelompok lahan kering mencakup: lahan tadah hujan, tegalan, lading, kebun campuran, perkebunan, hutan, semak, padang rumput, dan padang alang-alang.


Lahan kering mempunyai potensi yang cukup luas untuk dikembangkan, dengan luas yang mencapai 52,5 juta ha (Haryati, 2002) untuk seluruh indonesia maka pengembangan sangat perlu dilakukan. Menurut Simposium Nasional tentang Lahan Kering di Malang (1991) penggunaan lahan untuk lahan kering berturut adalah sebagai berikut: hutan rakyat, perkebunan, tegalan, tanah yang sedang tidak diusahakan, ladang dan padang rumput.


TUGAS: DISKUSIKAN DAN SETIAP ORANG MEMBUAT ESSAI TERSENDIRI TENTANG DEFENISI PERTANIAN LAHAN KERING. KUMPULKAN MINGGU DEPAN

35 komentar:

Anonim mengatakan...

tugas kelompok
sistem pertanian lahan kering
kelompok 1
nama-nama kelompok:
1. marcksni mantolas
2. andri nomleni
3. kristoforus kia
4. julius billi
5. erlin radjah
6. yovitha mau
7. ferdiyub s. wada
8. veronika k. teda
9. ardi bulu
10. salomi kadiwano
11. erot sakunab
12. helena medho
13. agustina sia
14. ariance kalumbang
15. aleksander kaka
16. jelian radjah haba
17. gabriel koten
18. daniel malafu

hasil dari livestock

1. biologi: pangan (susu, telur, daging)
2. ekonomi : non pangan ( jaket kulit, wool,kulit tulang)
3. enginery : "by product" (kulit,tulang bulu, darah)
4. kimiawi : resources ( skill, live skill)
5. fisika : "aneka rupa" tenker(bajak), keindahan(kontes ternak), penghasil uang(pacuan kuda)

Anonim mengatakan...

nama-nama anggota kelompok:
1.felsiana A. Murniati
2.ennilia m. bere
3.doni tarapanjang
4.yohanes zogara
5.yelly l. mulik
6.inggrid uliloni
7.maretha bani
8.venidora tael
9.juanita amtiran
10.nur afni ahmad
11.marinus bili
12.selvin udju wanji

hasil dari livestock
-input
1.biologi:pakan, ternak
2.ekonomi:uang(modal)
3.enginaring:kandang
4.kimia:kandungan nutrisi pakan,obat2an
5.fisika:sinar matahari,penerangan
-output
1.pangan:daging,telur,susu
2.non pangan:feces,urine,keringat
3.by product:kulit,bulu,tulang,darah,feces.velvet(tanduk muda)
4.sumber daya:tenaga(untuk kerja),transportasi
5.aneka rupa:hewan kesayangan,ternak hias,kontes ternak

Anonim mengatakan...

Tugas Kelompok Sistem Peternakan Lahan Kering
Nama-nama Kelompok
Mona Lastri Lani
Juana Malaikosa
Selviana Muda
Gabriel Lino Koten
Oktavianus Ledo
Jellian Radja Haba
Irma Lende
Jeffikson Buki
Ardeson Soden
Lusiana Ana Awa

A. Input
1. Biologi: Input biologi merupakan hasil produksi maupun hasil ikutan dari makhluk hidup yang adalah tumbuhan, ternak dan mikroorganisme. Contohnya rumput, limbah pertanian, probiotik dan hasil ikutan ternak seperti tepung darah dan tepung tulang.
2. Ekonomi: meliputi biaya-biaya yang diperlukan untuk menyediakan input biologi, engineering, kimia dan fisika. Contohnya, biaya pakan, obata-obatan, peralatan dan kandang
3. Kimia: dapat berupa kandungan nutrisi yang terdapat dalam input biologi (pakan). Selain itu juga merupakan zat-zat kimia yang dapat mendukung pemeliharaan, memacu pertumbuhan dan melindungi ternak dari penyakit. Contohnya, suplemen additive, antibiotik dan vaksin.
4. Engineering: berupa kandang, peralatan-peralatan pemeliharaan, serta sarana transportasi untuk pengangkutan ternak
5. Fisika: berupa manipulasi lingkungan ternak seperti suhu, radiasi dan kelembaban. Contohnya pengaturan pencahayaan matahari, penambahan peralatan-peralatan untuk menstabilkan suhu dalam kandang.

B. Output
1. Pangan: sebagai hasil yang utama dari usaha peternakan meliputi telur, susu dan daging serta pengolahannya.
2. Non Pangan:merupakan pangan yang tidak dapat dikonsumsi manusia, tetapi dapat mendukung keberlangsungan usaha manusia. Contohnya, feses dan urine dapat dijadikan pupuk untuk usaha pertanian.
3. By Product: merupakan hasil-hasil ikutan yang jika dibandingkan dengan pangan, memiliki nutrisi yang rendah tetapi dapat diolah dan berguna bagi kebutuhan manusia, ternak dan tanaman. Contohnya, kulit dapat dibuat menjadi tas, sepatu, bahkan kerupuk kulit;tulang dapat dijadikan sebagai tepung tulang sebagai suplemen kalsium bagi ternak; dan isi perut, isi dada, darah dapat pula diolah sebagai pupuk.
4. Sumber Daya: yang meliputi tenaga kerja, transportasi dan energi. Contohnya, ternak sapi dan kerbau untuk membajak sawah dan menarik pedati; ternak kuda sebagai sarana transportasi; dan feses dari ternak dapat digunakan untuk menghasilkan biogas.
5. Aneka rupa: meliputi ternak hias, ternak perlombaan, dan mas kawin (belis). Contohnya, pemeliharaan ayam hutan karena suaranya yang khas; kuda yang dipakai untuk pacuan; sapi yang digunakan untuk karapan sapi; dan sapi, kuda, babi dan kerbau dapat dipergunakan sebagai mas kawin (belis).

Ardi mengatakan...

Nama: Samsul Bahari Blegur
NIM: 0605020009
Jurusan: Nutrisi dan Makanan Ternak
Semester: VI

Saya termasuk kelompok II. Tetapi ketika saya buka web bapak saya tidak menemukan nama saya dikelompok II jadi saya kirim ulang tugas ini secara individu.

Hasil livestock

Input
1.Biologi
Makanan Ternak
2.Ekonomi
Uang (modal) dan tenaga kerja
3.Enginaring
Kandang dan peralatan
4.Kimia
Kandungan nutrisi pakan,obat-obatan
5.Fisika
Sinar matahari, udara ( angin)

Output
6.Pangan
Daging, telur, susu
7.Non pangan
Feces, urine, bulu
8.By product
Kulit, bulu, tulang, darah, feces
9.Sumber Tenaga (untuk kerja dan transportasi)
10.Aneka rupa
Hewan piaraan, ternak hias, kontes ternak

Anonim mengatakan...

met malam p'maaf menggangu. mau tanya kapan kita ujian tatalaksana padang pengembalaan & lahan kering coz skarang sudah waktunya UTS.

Anonim mengatakan...

Bonjour I'd like to thank you for such a great quality site!
thought this would be a perfect way to introduce myself!

Sincerely,
Monte Phil
if you're ever bored check out my site!
[url=http://www.partyopedia.com/articles/disney-cars-party-supplies.html]disney cars Party Supplies[/url].

Anonim mengatakan...

Nama Kelompok Diskusi
1. Steven Gunari Lake
2. Yanuarius P. Niron
3. Hendrikus Bria Berek
4. Yohanes Bani Lolo
5. Irenius Nane Sabhu
6. Rafles Huru
7. Konstantinus Ture
8. Cors Duru Adu
9. Antje Ratuwilla
10. Isran
11. Paulus Silla
12. Simon Petrus Sewo
13. Yuvensius Gumanti
14. Narita I. Adoe

Agroforestri
Propinsi Nusa Tenggara Timur beriklim kering (Semi arid) yang dipengaruhi oleh Angin Muson. Musim penghujan sangat pendek dan terjadi antara bulan Nopember sampai bulan Maret, Sedangkan Musim Kemarau panjang dan kering terjadi pada bulan April sampai dengan bulan Oktober.
Curah hujan berkisar antara 697 - 2.737 mm/tahun dengan jumlah hari hujan rata-rata tiap tahun antara 44 sampai 61 hari. Suhu maksimum rata-rata 33,2°C dan suhu minimum rata-rata 21,7°C. Kelembaban nisbi terendah terjadi pada Musim Timur Tenggara (63-76%) yaitu bulan Juni sampai Nopember dan kelembaban tertinggi pada Musim Barat Daya (82-88%) yaitu bulan Desember sampai bulan Mei.
Pertanian lahan kering adalah suatu teknik agrikultur untuk menanami daratan yang (mana) menerima curah hujan sedikit/kecil.
Model pengembangan system peternakan di NTT, antara lain :
Pengembangan system peternakan intensif, dimana semasa hidupnya ternak (sapi, kerbau, kambing, kuda, babi, dll) hanya berada didalam kandang. Dalam pelaksanaannya yang menjadi hambatan utama yakni kersediaan HMT sepanjang tahun (periode produksi).
Untuk mengatasi permasalahan tersebut selama bulan basah (musim), dapat dilakukan kegiatan penghijauan atau pembuatan kebun HMT. Penanaman HMT antara lain rumput dan leguminosa disertai dengan pemupukan diharapkan mampu memperbaiki kondisi lahan kering di NTT. Dengan kegiatan ini dapat meningkatkan ketersediaan HMT yang mampu emenuhi kebutuhan ternak.
Untuk menjamin ketersediaan HMT selama musim kemarau yang panjang, dapat diterapkan teknologi pengolahan pakan seperti pembuatan silase dan hay.
 Hay
Hay adalah tanaman hijauan pakan ternak, berupa rumput-rumputan/leguminosa yang disimpan dalam bentuk kering berkadar air 20-30%. Prinsip dari pengeringan yaitu menurunkan kandungan air sehingga aman untuk disimpan dalam arti dapat menghentikan/menghambat aktifitas dari tumbuhan itu sendiri dan enzim dari mikrobia yang terdapat didalarnnya dan menurunkan kandungan air sehingga aman untuk disimpan
Pembuatan hay bertujuan untuk menyeragamkan waktu panen agar tidak menganggu pertumbuhan pada periode berikutnya, sebab tanaman yang seragam akan memiliki daya cerna yang lebih tinggi. Tujuan khusus pembuatan hay adalah agar tanaman hijauan (pada waktu panen yang berlebihan) dapat disimpan untuk jangka waktu tertentu sehingga dapat mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau.
Hijauan yang akan diolah harus dipanen saat menjelang berbunga (berkadar protein tinggi, serat kasar dan kadar air optimal), sehingga hay yang diperoleh tidak berjamur yang akan menyebabkan turunnya palatabilitas dan kualitas (Subur, 2006).
Di NTT limbah pertanian terutama jerami padi banyak diolah menjadi hay karena hasilnya berlimpah, tidak perlu menanam khusus tinggal mengumpulkan saja sehingga penggunaannya menjadi sangat popular, meskipun rendah nutrisi
 Silase
Silase adalah proses pengawetan makanan yang dilakukan pada sebuah silo pada kondisi anaerob.
Tujuan pembutan silase adalah untuk mengantisipasi kekurangan hijauam makan pada musim kemarau dengan kualitas yang baik.
Selain itu system peternakan semi ekstensif dimana ternak dikandangkan dan digembalakan di padang penggembalaan juga dapat dilaksanakan. Padang pengembalaan (rumput sampai pohon) dapat tersedia dengan kualitas yang baik selama musim hujan walaupun berada pada lahan kritis. Di NTT mempunyai lahan yang cukup luas dan belum termanfaatkan sehingga dapat dijakan sebgai padang penggembalaan.

Anonim mengatakan...

Nama Kelompok Diskusi
1. Steven Gunari Lake
2. Yanuarius P. Niron
3. Hendrikus Bria Berek
4. Yohanes Bani Lolo
5. Irenius Nane Sabhu
6. Rafles Huru
7. Konstantinus Ture
8. Cors Duru Adu
9. Antje Ratuwilla
10. Isran
11. Paulus Silla
12. Simon Petrus Sewo
13. Yuvensius Gumanti
14. Narita I. Adoe

Agroforestri
Propinsi Nusa Tenggara Timur beriklim kering (Semi arid) yang dipengaruhi oleh Angin Muson. Musim penghujan sangat pendek dan terjadi antara bulan Nopember sampai bulan Maret, Sedangkan Musim Kemarau panjang dan kering terjadi pada bulan April sampai dengan bulan Oktober.
Curah hujan berkisar antara 697 - 2.737 mm/tahun dengan jumlah hari hujan rata-rata tiap tahun antara 44 sampai 61 hari. Suhu maksimum rata-rata 33,2°C dan suhu minimum rata-rata 21,7°C. Kelembaban nisbi terendah terjadi pada Musim Timur Tenggara (63-76%) yaitu bulan Juni sampai Nopember dan kelembaban tertinggi pada Musim Barat Daya (82-88%) yaitu bulan Desember sampai bulan Mei.
Pertanian lahan kering adalah suatu teknik agrikultur untuk menanami daratan yang (mana) menerima curah hujan sedikit/kecil.
Model pengembangan system peternakan di NTT, antara lain :
Pengembangan system peternakan intensif, dimana semasa hidupnya ternak (sapi, kerbau, kambing, kuda, babi, dll) hanya berada didalam kandang. Dalam pelaksanaannya yang menjadi hambatan utama yakni kersediaan HMT sepanjang tahun (periode produksi).
Untuk mengatasi permasalahan tersebut selama bulan basah (musim), dapat dilakukan kegiatan penghijauan atau pembuatan kebun HMT. Penanaman HMT antara lain rumput dan leguminosa disertai dengan pemupukan diharapkan mampu memperbaiki kondisi lahan kering di NTT. Dengan kegiatan ini dapat meningkatkan ketersediaan HMT yang mampu emenuhi kebutuhan ternak.
Untuk menjamin ketersediaan HMT selama musim kemarau yang panjang, dapat diterapkan teknologi pengolahan pakan seperti pembuatan silase dan hay.
 Hay
Hay adalah tanaman hijauan pakan ternak, berupa rumput-rumputan/leguminosa yang disimpan dalam bentuk kering berkadar air 20-30%. Prinsip dari pengeringan yaitu menurunkan kandungan air sehingga aman untuk disimpan dalam arti dapat menghentikan/menghambat aktifitas dari tumbuhan itu sendiri dan enzim dari mikrobia yang terdapat didalarnnya dan menurunkan kandungan air sehingga aman untuk disimpan
Pembuatan hay bertujuan untuk menyeragamkan waktu panen agar tidak menganggu pertumbuhan pada periode berikutnya, sebab tanaman yang seragam akan memiliki daya cerna yang lebih tinggi. Tujuan khusus pembuatan hay adalah agar tanaman hijauan (pada waktu panen yang berlebihan) dapat disimpan untuk jangka waktu tertentu sehingga dapat mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau.
Hijauan yang akan diolah harus dipanen saat menjelang berbunga (berkadar protein tinggi, serat kasar dan kadar air optimal), sehingga hay yang diperoleh tidak berjamur yang akan menyebabkan turunnya palatabilitas dan kualitas (Subur, 2006).
Di NTT limbah pertanian terutama jerami padi banyak diolah menjadi hay karena hasilnya berlimpah, tidak perlu menanam khusus tinggal mengumpulkan saja sehingga penggunaannya menjadi sangat popular, meskipun rendah nutrisi
 Silase
Silase adalah proses pengawetan makanan yang dilakukan pada sebuah silo pada kondisi anaerob.
Tujuan pembutan silase adalah untuk mengantisipasi kekurangan hijauam makan pada musim kemarau dengan kualitas yang baik.
Selain itu system peternakan semi ekstensif dimana ternak dikandangkan dan digembalakan di padang penggembalaan juga dapat dilaksanakan. Padang pengembalaan (rumput sampai pohon) dapat tersedia dengan kualitas yang baik selama musim hujan walaupun berada pada lahan kritis. Di NTT mempunyai lahan yang cukup luas dan belum termanfaatkan sehingga dapat dijakan sebgai padang penggembalaan.

Anonim mengatakan...

KAITAN ANTARA MANUSIA DAN TERNAK
TERHADAP SUMBER DAYA PETERNAKAN DI LAHAN KERING

Oleh

Kelompok I :
1. Delfianus D. Dairus Sedi
2. Markus Namu
3. Dominnga Agusta leku
4. Julianus Jerimana
5. Juniati M. Neno
6. Mariane B. Fone
7. Vicky P. Haning
8. Elen A. lango
9. Ariance R. B. Roni
10. Margareda boymau
11. Dewiyanti Logo
12. Helpermin Aji
13. Lodowika M. Loak
14. Hendrikus Rebon


Hasil diskusi kelompok

1. Gambaran umum tentang manusia dan ternak daerah NTT
Pemanfatatan lahan kering di daerah NTT memang sangat diharapkan oleh semua pihak, khususnya pemanfaatan di bidang pertanian peternakan.sukses dan tidaknya usaha penembangan sistem peternakan sangat dipengaruhi oleh kontribusi dari manusia dan sumber daya ternak itu sendiri, tanpa mengabaikan pakan bagi ternak. Lahan kering seperti NTT membutuhkan sumber daya manusia yang cukup sehingga dapat mengelolanya baik. Sebab tidak bisa berharap dari alam yang memberikan sepenuhnya.
Begitupun dengan kondisi ternak yang ada di NTT, dimana sebelumnya NTT pernah dijuluki sebagai gudang ternak, Hal ini menjadi dasar bahwa lahan kering juga mampu memproduksi hasil pertanian-peternakan dengan maksimal. Namun karena adanya perubahan musim yang semakin memburuk, mebuat manusia perlu mengembangkan sumber dayanya. Sumber daya yang dimaksud yaitu dengan menjalani pendidikan, sehingga dengan pendidikan dapat membuka wawasan dan cara berpikir yang bermanfaat. Selain itu juga dapat mengmbangkan teknologi-teknologi baru yang mampu memperbaharui sistem peternakan lahan kering menjadi lebih optimal.
2. Kendala yang terjadi
Kendala sekarang ini ialah banyak pelaku usaha dalam sidang pertanian-peternakan yang hampir seluruhnya adalah masyarakata pedesaan yang rata-rata tingkat pendidikanya masih rendah. Tidak banyak terobosan-terobosan terbaru yang mampu memajukan sistem peternakan pada daerah kering seperti NTT ini. Tetapi sebaliknya, sistem peternakan yang di jalani sampai saat ini malah memperihatinkan. Ternak-ternak tidak memperoleh kebutuhan pakan yang cukup karena iklim yang semakin memburuk dan pembukaan lahan dengan cara dibakar. Anggapan mereka bahwa dengan di bakar dapat memberikan nilai guna bagi kesuburan tanah. Sistem pembukaan lahan pertanian dengan cara dibakar juga dapat mempersempit padang sebagai sumber pakan ternak, selain itu menyebabkan berkurangnya lahan tempat pengelolaan pakan ternak.
Di pihak lain, budaya masyarakat di NTT juga sangat signifikan pengaruhnya terhadap penurunnya kualitas dan kuantitas ternak. Masyarakat memanfaatkan ternak untuk acara adat, upacara kematian, dan lain-lain. Upacara semacam ini juga mengakibatkan jumlah ternak yang dibunuh sangat banyak. Penyebab lain yaitu ternak-ternak yang asih produktif juga banyak yang dibunuh untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang mendesak.
3. Upaya-upaya yang dilakukan
Upaya-upaya dalam meningkatkan sumber daya manusia adalah konsekuensi yang baik, karena dengan demikian dapat membuka cara pemikiran yang cenderung memanfaatkan ternak tanpa memikirkan populasinya kedepan. Manusia perlu memanfaatkan lahan kering untuk digunakan sebagai sumber pakan bagi ternak. Misalnya pada musim hujan, manusia dapat memanfaatkan semaksimal mungkin pakan yang ada, memasuki musim peralihan menuju musim kemarau, pakan berupa hijauan dapat dibuat silo guna menjaga ketersediaan pakan dimusim kemarau, selain itu, juga pada musim peralihan ke musim panas, diharapakan dapat memanfaatkan lahan kering untuk menanam kembali berbagai jenis hijauan yang berpotensi tahan terhadap kekerigan. Apabila kebutuhan pakan ternak terjamin maka ternak tersebut dapat berkembang dan berproduksi dengan maksimal.
Masyarakat perlu membatasi pemotongan ternak dalam skala besar, untuk meningkatkan populasi Ternak, dan perlu melihat keadaan ternak yang ideal sebelum dipastikan untuk dilakukan pemotongan. Manusia juga perlu meninjau kembali budaya yang selamam ini diaplikasikan, yang menyebablan banyak ternak yang dibunuh, misalnya upacara-upacara adat, upacara kematian, syukuran dan sebagainya.

Anonim mengatakan...

Nama : Hendrikus Bria Berek
Nim : 0705022585
Semester : VI (enam)

ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN UNTUK PENGEMBANGAN USAHA
PETERNAKAN DI NTT



A. Masalah Pertanian Dan Peternakan Di NTT

Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan wilayah Indonesia yang beriklim kering .dimana musim kemarau lebih panjang daripada musim hujan.biasanya musim kemarau berlangsung selama 8-9 bulan yakni dari bulan April-Desember. Sedangkan musim hujan berlangsung hanya 3-4 bulan saja yakni dari bulan Januari- Maret.
Kondisi NTT yang musim kemaraunya lebih panjang ini menyebabkan usaha pertanian selalu mengalami ke gagalan dalam produksi tanaman pertanian. Perlu diketahui bahwa sebagian besar masyarakat NTT merupakan masyarakat yang bermata pencaharian dari pertanian.sehingga apabila terjadi “gagal panen” pada musim kemarau akan menyebabkan kelaparan.
Kondisi kekeringan ini tidak hanya mempengaruhi produksi hasil pertanian tetapi juga mempengaruhi produksi hasil peternakan terutama peternakan sapi. Peternakan sapi merupakan salah satu komoditas utama dari daerah NTT. Produksi peternakan sangat di pengaruhi oleh musim kemarau dimana pada musim kemarau tidak cukup tersedia di alam. Kekurangan pakan hijauan pada musim kemarau dapat menyebabkan terjadinya penurunan bobot badan ternak,penundaan lama birahi pada sapi betina,mudah terkena penyakit,tingkat kematian tinggi terutama pada pedet yang masih menyusui. Pada umumnya sistem peternakan di NTT masih bersifat ekstensif dimana ketersediaan hijauan selalu dari alam.sehingga pada saat kemarau panjang hijauan yang tersedia di alam bebas tidak cukup secara kuantitas dan kulitas.
Dengan demikian persoalan utama kegagalan pertanian dan peternakan di NTT adalah masalah kekeringan yang terjadi sepanjang tahun. Masalah ini merupakan suatu tantangan tersendiri bagi pemerintah dan masyarakat NTT untuk menanggulanginya.



B. Lahan pertanian untuk pengembangan peternakan

Melihat kondisi di atas maka model pengembangan peternakan lahan kering yang sesuai untuk diterapkan di NTT yakni dengan model “Alih Fungsi Lahan Pertanian Untuk Ternak”. Yang dimaksudkan dengan alih fungsi lahan pertanian yakni lahan pertanian yang sebelumnya berfungsi sebagai sumber produksi hasil pangan pertanian, dialihkan fungsinya menjadi lahan hijauan makanan ternak(HMT) dan kebun pakan ternak.
Apabila lahan pertanian digunakan untuk memproduksi pakan ternak terutama hijauan makanan ternak untuk ternak ruminansia maka ada satu hal yang perlu diperhatikan yakni: ketersediaan sumber air pada musim kemarau.pada lahan persawahan,untuk sumber airnya dapat disuplai dari air irigasi. Dan apabila pada musim kemarau tetap terjadi kekeringan yang berdampak pada hijauan makanan ternak maka dapat dibuat sumber pengairan dari air sumur. Hal yang sama dapat dapat dilakukan untuk lahan bukan merupakan sumber persawahan,dengan cara menggali sumur di sisi lahan untuk tujuan pengairan lahan hijauan makanan ternak pada musim kemarau.
Selain lahan digunakan untuk hijauan makanan ternak untuk ternak ruminansia terutama ternak sapi juga bisa digunakan untuk menanam pakan sumber energy bagi ternak monogastrik seperti babi dan ayam.misalnya lahan bisa digunakan untuk menanam tanaman umbi-umbian yang merupakan bahan pakan sumber energy tinggi bagi ternak babi.

Veb Valentinus Riwu mengatakan...

NAMA ; Veb Valentinus Riwu
NIM ; 1005031052
SEMESTER ; VIII

DEFENISI PERTANIAN LAHAN KERING ;
Pertanian Lahan Kering merupakan aktifitas pertanian (budidaya tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan) yang dilakukan di lahan kering.
Lahan kering ini terjadi sebagai akibat dari curah hujan yang sangat rendah, sehingga keberadaan air sangat terbatas, suhu udara tinggi dan kelembabannya rendah.
Kondisi lahan kering tersebut mengakibatkan sulitnya membudidayakan berbagai produk pertanian. Faktor primer yang diperlukan tanaman untuk tumbuh adalah media tanam, air, cahaya, angin, dan nutrisi tanaman. Semua faktor yang diperlukan tanaman untuk dapat tumbuh dengan baik tersebut terhambat oleh kondisi daerah lahan kering yang memiliki iklim dan cuaca ekstrim.
Sekian dari saya, Terima Kasih Pak.

Anonim mengatakan...

Nama : Yoel Ndapa Dingu
Nim : 1005032101
Semester : VIII
Peternakan lahan kering adalah suatu tempat atau lahan dimana lahan tersebut yang menjadi faktor pembatasnya adalah air dan biasanya didaerah peternakan lahan kering sangat tergantung pada curah hujan, tingkat kesuburan tanahnya juga rendah, sehingga perlu diadakan upaya untuk konservasi area lahan yang kurang subur.

Anonim mengatakan...

Nama : Yunindah Lestari Lapihu
NIM : 1105032009
Semester : VI

Menurut saya, Pertanian lahan kering merupakan lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian yang mencakup usaha perkebunan dan peternakan, budidaya tanaman pangan, perikanan, serta kehutanan yang dilakukan di lahan kering dengan penggunaan air yang terbatas, sebab lahan kering merupakan lahan yang tidak pernah mengalami genangan air secara permanen.
Lahan kering terjadi sebagai akibat dari curah hujan yang sangat rendah, sehingga keberadaan air sangat terbatas, suhu udara tinggi dan kelembabannya rendah. Lahan kering sering dijumpai pada daerah yang mempunyai musim kemarau panjang sekitar 7-9 bulan dengan musim hujan sekitar 3-5 bulan.

Anonim mengatakan...

Nama: Yuliana Weni Duan
NIM: 1105032021
Semester: VI

Pertanian Lahan Kering merupakan suatu tempat atau site atau lahan untuk pengembangan usaha Pertanian, Perkebunan,Peternakan dan kehutanan dimana lahan tersebut yang menjadi faktor pembatasnya adalah air dan biasanya didaerah peternakan lahan kering sangat tergantung pada curah hujan yang hanya 3-5 bulan saja, sedangkan selebihnya 7-9 bulan adalah musim kemarau. Tingkat kesuburan tanahnya juga rendah,umumnya adalah tanah bersolum tipis,berkapur dan berbatu sehingga perlu diadakan penanganan khusus atau upaya untuk konservasi area lahannya.

Anonim mengatakan...

Nama : Stepanus Anamatalu
NIM : 1105032001
Semester : VI
Prodi : Peternakan


Pertanian lahan kering adalah hasil kebudayaan manusia yang diterapkan dalam suatu lahan kritis seperti beriklim panas, curah hujan rendah, kekurangan unsur hara, dengan mengembangkan usaha baik di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan dengan cara memadukan 4 pilar utama yaitu Sumber daya manusia(petani/peternak), Akademisi, LSM dan kebijakan pemerintah sehingga lahan kering dapat bermanfaat bagi kesejahteraan bangsa dan Negara.
Pertanian lahan kering sebagai salah satu aspek pembangunan ekonomi bangsa Indonesia apabila dilakukan pengintegrasian sektor pertanian, peternakan, perkebunan, dan perikanan maka ketersediaan pangan akan tercukupi. Membuka usaha di lahan kering, ketersediaan air menjadi hal yang sangat substansi karena ketersediaan air di lahan kering terbatas dengan musim kemarau lebih panjang daripada musim hujan. Oleh karena itu, cara yang dilakukan yaitu dengan membuat bendungan untuk irigasi pertanian, membuat chekdam, membuat bak penampung air di setiap lokasi perkebunan, peternakan sehingga kebutuhan air untuk ternak yang dipelihara maupun tanaman perkebunan tercukupi.

Anonim mengatakan...

NAMA :SIRILA DEDA
NIM :1105031058
SEMESTER :VI
RUANGAN :E4

Pengertian lahan kering adalah lahan yang dapat digunakan musim hujan karena hanya air hujan sebagai pasokan kebutuhan untuk usaha pertanian,perkebunan maupan peternakan yang dalam jumlah yg terbatas.
Sebagian besar lahan kering bergantung pada hujan untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman maupun ternak yang diusaha lahan kering tersebut

Anonim mengatakan...

NAMA :SUSANTI KAHI ANA AWA
NIM :1105032077
SEMESTER :VI
RUANGAN :E4

Lahan kering adalah hamparan lahan yang didayagunakan tanpa penggenangan air, baik secara permanen maupun musiman dengan sumber air berupa hujan atau air irigasi untuk usaha pertanian maupun peternakan.
Pemanfaatan lahan kering untuk kepentingan pembangunan daerah ternyata banyak menghadapi masalah dan kendala. Masalah yang utama adalah masalah fisik lahan kering banyak yang telah rusak atau mempunyai potensi yang cukup besar untuk menjadi rusak.

Anonim mengatakan...

NAMA :YOHANES BAPTISTA GAWE
NIM :1105032080
SEMESTER:VI
RUANGAN :E4

Lahan kering adalah lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian,peternakan dan perkebunan dengan menggunakan air secara terbatas dan biasanya hanya mengharapkan dari curah hujan. Lahan ini umumnya berlereng dengan kondisi kemantapan lahan yang labil (peka terhadap erosi) terutama bila pengelolaannya tidak memperhatikan kaidah konservasi tanah, ditandai dengan rendahnya curah hujan yang berkisar antara 100-600 mm/tahun.



Anonim mengatakan...

NAMA :STEFANUS Y. TARAN
NIM :1105032079
SEMESTER :VI
RUANG :E4
Pertanian Lahan Kering adalah lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian dengan menggunakan air secara terbatas dan biasanya hanya mengharapkan dari curah hujan. Lahan kering memiliki kondisi agro-ekosistem yang beragam, umumnya berlereng atau peka terhadap erosi terutama bila pengelolaannya tidak memperhatikan konservasi tanah.

Anonim mengatakan...

Nama : THEOFANO Y.W. MUDA
Nim : 1105032094
Semester : V1
Ruangan : E4

Lahan kering adalah lahan yang dapat di gunakan untuk usaha pertanian dan membutuhkan air dalam jumlah yang terbatas. Sebagian besar lahan kering bergantungan pada hujan untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman.

Anonim mengatakan...

NAMA : STEFANUS H. NGAJI
NIM : 1105032081
SEMESTER : VI
RUANG : E4
Pertanian lahan kering adalah pertanian yang mengandalkan musim hujan karena hanya air hujan sebagai pasokan kebutuhan air bagi tanaman atau hamparan lahan yang tidak pernah digenangi air atau tergenang air pada sebagian waktu selama setahun. Lahan kering relatif luas dibandingkan dengan lahan basah.

Anonim mengatakan...

Nama : THOMSON APLUNGGI
Nim : 1105032085
Semester :VI
Ruang :E4
pengertian lahan kering adalah suatu area atau lokasi yang curah hujannya terbatas, yakni 3-5 bulan saja.

Anonim mengatakan...

NAMA: SOFNIDAN BISTOLEN
NIM: 1105032140
SEMESTER: VI
KELAS: E4
pengertian lahan kering suatu lahan pertanian atau perkebunan yang mengandalkan curah hujan saja

Anonim mengatakan...

NAMA: YUSTINA KONO
NIM:1105032111
SEMESTER:VI
RUANG: E4
PENGERTIAN LAHAN KERING SUATU TEMPAT ATAU LOKASI YANG SISTEM PERTANIANNYA BERUPA AIR HUJAN UNTUK USAHA TANI TERSEBUT.

Anonim mengatakan...

NAMA: WILLY S. NENO
NIM:1105032018
SEMESTER: VI
RUANG:E4
Pengertian lahan kering merupakan suatu lahan atau areal pertanian yang curah hujannya sangat rendah seperti di indonesia, sehingga daerah tersebut identik digunakan untuk peternakan saja.

Anonim mengatakan...

NAMA: WILLY S. NENO
NIM:1105032018
SEMESTER: VI
RUANG:E4
Pengertian lahan kering merupakan suatu lahan atau areal pertanian yang curah hujannya sangat rendah seperti di indonesia, sehingga daerah tersebut identik digunakan untuk peternakan saja.

Anonim mengatakan...

NAMA : YULIUS ULI HAWOLAMBANI
NIM : 1105032105
SEMESTER: VI (ENAM)
RUANG : E4

Pengertian lahan kering ialah sebidang lahan atau areal yang di gunakan untuk lokasi usaha pertanian dengan kondisi air yang sangat terbatas yang di mana hanya mengharaokan curah hujan saja.

Anonim mengatakan...

NAMA :VINSENSIA K.BALOK
NIM :1105031036
SEMESTER :VI
RUANGAN :E4

Pengertian lahan kering adalah suatu tempat atau lokasi yang termarginalkan atau kondisi lahan kering kurang menunjang sistem pertanian yang mengharapkan air hujan saja

Anonim mengatakan...

NAMA : YUPRI YUPSON NDOLUANAK
NIM : 1105032083
SEMESTER: VI
RUANG : E4

Pengertian peternakan lahan kering adalah suatu lahan atau suatu areal sistem pertanian dengan kondisi air yang terbatas dan hasil dari lahan tersebut dimanfaatkan untuk pakan ternak.

Anonim mengatakan...


NAMA :YETI INTAN TAMU INA
NIM : 1005030142
SEMESTER: VI(ENAM)
RUANG : E4

Pengertian lahan kering adalah:
hasil kebudayaan manusia yang diterapkan dalam suatu lahan kritis seperti beriklim panas, curah hujan rendah, kekurangan unsur hara, dengan mengembangkan usaha baik di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan dengan cara memadukan 4 pilar utama yaitu Sumber daya manusia(petani/peternak), Akademisi, LSM dan kebijakan pemerintah sehingga lahan kering dapat bermanfaat bagi kesejahteraan bangsa dan Negara.

Anonim mengatakan...

NAMA :WULANDARI SUSAN OMAY
NIM : 1105032124
SEMESTER: VI(ENAM)
RUANG : E4
Pengertian lahan kering adalah:
Semua kegiatan pertanian baik itu, pertanian,peternakan,perikanan dan kehutanan yang dilakukan di lahan kering dengan intensitas curah hujan hanya sekitar 1-4 bulan dalam setahun dan selanjutnya mengalami musim kemarau.sehingga perlu Sumber daya manusia(petani/peternak), Akademisi, LSM dan kebijakan pemerintah sehingga pertanian di lahan kering dapat di kelola secara baik.

Anonim mengatakan...

Nama : Umbu Neka Jara Woli
NIM : 1005035114
Semester : VIII
Ruang : E4

Pengertian lahan kering adalah lahan yang didayagunakan untuk usaha pertanian tadah hujan. Lahan kering juga dapat digunakan untuk penanaman tanaman pangan seperti palawija dan kelapa sawit.

Anonim mengatakan...

Nama : Yonathan P. Gah
NIM : 0905032148
Semester : X
Ruang : E 4

Pertanian lahan kering merupakan suatu tempat untuk pengembangan usaha Pertanian, Perkebunan,Peternakan dan kehutanan dimana lahan tersebut memiliki debit air yang rendah. sehingga untuk pengembangan usaha pertanian atau perkebunan sangat bergantung pada curah hujan.

achim manuel mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh penulis.
Anonim mengatakan...

Nama : Veronika Kunda
NIM : 1105031067
Semester : VI
Kelas : E 4
Lahan kering merupakan lahan yang tidak digenangi air secara permanen dalam satu musim.
Pertanian lahan kering merupakan kegiatan budidaya tanaman yang dilakukan dalam kondisi tekanan kekeringan sedang sampai berat selama sebagian besar musim tanam, sehingga memerlukan teknik-teknik budidaya khusus, jenis tanaman, dan system usahatani tertentu untuk memungkinkan produksi dapat dilakukan secara berkelanjutan.