Minggu, 06 Mei 2012

definisi agroforestri (http://www.bpdas-pemalijratun.net)

Sampai dengan saat ini belum ada kesatuan pendapat di antara para ahli tentang definisi “agroforestri”. Hampir setiap ahli mengusulkan definisi yang berbeda satu dari yang lain. Mendefinisikan agroforestri sama sulitnya dengan mendefinisikan hutan.   Dalam jurnal "Agroforestry Systems" Volume 1 No.1, halaman 7-12 Tahun 1982 ditampilkan tidak kurang dari 12 definisi antara lain:
Agroforestri adalah
… sistem penggunaan lahan terpadu, yang memiliki aspek sosial dan ekologi, dilaksanakan melalui pengkombinasian pepohonan dengan tanaman pertanian dan/atau ternak (hewan), baik secara bersama-sama atau bergiliran, sehingga dari satu unit lahan tercapai hasil total nabati atau hewan yang optimal dalam arti berkesinambungan  (P.K.R. Nair)
… sistem pengelolaan lahan berkelanjutan dan mampu meningkatkan produksi lahan secara keseluruhan, merupakan kombinasi produksi tanaman pertanian (termasuk tanaman tahunan) dengan tanaman hutan dan/atau hewan (ternak), baik secara bersama atau bergiliran, dilaksanakan pada satu bidang lahan dengan menerapkan teknik pengelolaan praktis yang sesuai dengan budaya masyarakat setempat (K.F.S. King dan M.T. Chandler)
……. penanaman pepohonan secara bersamaan atau berurutan dengan tanaman pertanian dan/atau peternakan, baik dalam lingkup keluarga kecil ataupun perusahaan besar. Agroforestri tidak sama dengan hutan kemasyarakatan (community forestry), akan tetapi seringkali tepat untuk pelaksanaan proyek- proyek hutan kemasyarakatan" (L.  Roche)

Sabtu, 10 Maret 2012

bahan kuliah mk. tatalaksana pastura - fapet, Undana: "Bumikan Savana di NTT (by www.tribunnews.com)"

Selasa, 14 Juni 2011 19:04 WITA

Pengantar Redaksi

Mengisi Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni tahun ini, Harian Umum Pos Kupang bekerja sama dengan Forum DAS NTT didukung Sekber Kerja sama Antar Daerah-Divisi Lingkungan Hidup/DAS menggelar diskusi, Sabtu (4/6/2011) lalu, di Kantor Redaksi Pos Kupang. Diskusi terbatas dengan moderator Redpel Pos Kupang, Tony Kleden, itu menghadirkan Dr. Ir. Ludji Michael Riwu Kaho, M.Si, membahas draft buku yang akan diterbitkan Riwu Kaho berjudul “Ekologi Savana Kepulauan di Zona Tropika Semi Arid, Indonesia (Tipikal, Pemanfaatan dan Pengelolaan)”. Berikut catatan lepas dari diskusi itu.

SABTU pagi itu (4/6/2011) jam nyaris mendekat angka 10.00 Wita di ruang rapat re-daksi Pos Kupang. Para peser-ta diskusi sudah gelisah me-nunggu kedatangan sang na-rasumber yang akan menyam-paikan materi. Kegelisahan para peserta akhirnya terobati setelah sang ilmuwan Dr. Ir Ludji Michael Riwu Kaho, M.Si, dengan tergopoh-gopoh masuk ke ruang rapat redaksi sambil menenteng tas laptopnya.

Jumat, 09 Maret 2012

terminologi inventarisasi sumberdaya alam (bahan disitasi dari wikipedia dan beberapa sumber lain))

Inventory

In the USA and Canada the term has developed from a list of goods and materials to the goods and materials themselves, especially those held available in stock by a business; and this has become the primary meaning of the term in North American English, equivalent to the term "stock" in British English. In accounting, inventory or stock is considered an asset.

Selasa, 24 Januari 2012

soal ujian susulan mk. "ilmu tanaman pakan ternak" (fapet, januari 2012)

1. Tumbuhan c3 dan c4 memiliki perbedaan anatomi dan fisiologis. Berdasarkan perbedaan tersebut, jelaskan mengapa tumbuhan c4 mendominasi komunutas vegetasi padang rumput tropika?

2, Berikan contoh masing-masing 20 jenis tumbuhan c3 dan c4 yang edibel sebagai pakan ternak.

Sabtu, 29 Oktober 2011

Komodo: populasi, habitat, dan endemisme

Endemisme

Endemisme dalam ekologi adalah gejala yang dialami oleh organisme untuk menjadi unik pada satu lokasi geografi tertentu, seperti pulau, lungkang (niche), negara, atau zona ekologi tertentu. Untuk dapat dikatakan endemik suatu organisme harus ditemukan hanya di suatu tempat dan tidak ditemukan di tempat lain. Contohnya adalah jalak bali, hanya ditemukan di Taman Nasional Bali Barat di Pulau Bali. Faktor fisik, iklim, dan biologis dapat menyebabkan endemisme. Sebagai misal, babi rusa menjadi endemik karena isolasi geografi yang dialaminya dan tantangan ruang hidupnya di Pulau Sulawesi menyebabkan ia menjadi berbentuk khas.
Wilayah dengan keanekaragaman hayati tinggi tidak berarti merupakan daerah dengan tingkat endemisme tinggi, meskipun kemungkinan untuk dihuni oleh organisme endemik menjadi meningkat.

Beberapa ancaman terhadap wilayah dengan endemisme tinggi adalah penebangan hutan secara berlebihan serta metode pembukaan lahan dengan cara membakar hutan. Dua faktor ini umumnya didapati pada negara-negara dengan populasi yang tinggi.

Rabu, 24 Agustus 2011

TUGAS Matrikulasi STATISTIKA, IPASL 2011

Dear All,
Berikut ini adalah sekumpulan data yang harus anda olah. Tentukanlah ciri-ciri dari populasi atau sampel ini. Kumpulkan di akhir jam kuliah pada hari Rabu, 24 Agustus 2011

Selasa, 22 Maret 2011

(bahan kuliah mk. sistem agroforestri, fapet, Undana) justifikasi sistem agrosilvopastoral dalam pengelolaan hutan di NTT

Strategi Mereduksi Bahaya Penggembalaan

Suatu kajian menarik yang dilakukan di kawasan Hutan CA Mutis-Timau oleh Tim WWF Nusra (2003) memberikan petunjuk sebagai berikut. Dilaporkan bahwa cukup tinggi persentasi responden (92.5%) yang paham bahwa hutan Mutis Timau perlu dikonservasi justru karena merupakan sumber-sumber pemenuhan kebutuhan mereka sendiri seperti air dan kayu, selain alasan budaya. Terdapat 89% responden menolak penebangan hutan, 75% menolak konversi hutan menjadi lahan pertanian, 76% menolak aktivitas perburuan margasatwa tetapi terdapat 51% responden menolak untuk tidak menggembalakan sapi di dalam kawasan hutan. Alasan yang dikemukakan antara lain ternak tidak merusak pohon, ternak dapat mengurangi kebakaran hutan dan karena praktek pengembalaan merupakan tradisi sejak nenek moyang.

Senin, 21 Maret 2011

makalah tentang sabu (bahan kuliah mk. inventarisasi SDA, ipsal, Undana)

Strategi Pembangunan Pulau Sabu Dalam Perspektif Ekologi

Oleh
Ludji Michael Riwu Kaho
(disampaikan dalam pertemuan Permasa di Kupang, Mei 2005)

Jika orang membuka peta Indonesia pada skala 1: 13.000.000 atau lebih maka hampir dapat dipastikan Pulau Sabu tidak ditemukan di sana. Penyebab satu hal saja, Pulau Sabu berukuran sangat kecil. Bahkan, bukan saja sangat kecil tetapi juga sangat terisolir. Keadaan ini tidak harus dijadikan alasan untuk bermuram durja. Sebaliknya, harus dijadikan tantangan untuk mengatasi kompleks permasalahan yang terjadi akibat situasi demikian.

Kamis, 04 Maret 2010

http://regional.kompas.com/read/2010/03/04/12410810/Sumba.Timur.Potensial.Jadi.Padang.Gurun

Kamis, 4 Maret 2010 | 12:41 WIB


KUPANG, KOMPAS.com — Kabupaten Sumba Timur di Provinsi Nusa Tenggara Timur berpotensi menjadi gurun akibat proses penghilangan vegetasi dan penurunan kelembaban tanah di wilayah timur Pulau Sumba itu. Demikian dikemukakan seorang peneliti ilmu kehutanan dari Universitas Nusa Cendana, Kupang, Dr L Michael Riwu Kaho, di Kupang, Kamis.

Senin, 01 Maret 2010

mutis dan wairinding, apa masalahnya? (bahan untuk Pak Frans Sarong - KOMPAS)

MUTIS DAN WAIRINDING, APA MASALAHNYA

Oleh
L. Michael Riwu Kaho
(Dosen Undana, Doktor dalam Bidang Ilmu Kehutanan)

Kawasan Hutan Cagar Alam (CA) Mutis-Timau, seluas ± 75.000 ha + 12 .000 ha yang ditetapkan sebagai kawasan inti CA, merupakan kawasan hutan yang seharusnya, menurut ketentuan kawasan yang dilindungi, terbebas dari upaya eksploitasi sumberdaya alam. Akan tetapi secara tradisional kawasan ini telah dihuni oleh sekelompok populasi dari etnolinguistik tertentu, atoin meto, yang menganggap bahwa daerah Mutis dan sekitarnya adalah ruang hidup mereka. Mempertemukan dua kepentingan ini merupakan suatu dinamika etika lingkungan yang bersifat dilematik, karena dua kepentingan tersebut memiliki dinamik yang terkadang bertabrakan secara diametral. Di satu sisi hutan Mutis harus di lindungi tetapi dinamika perkembangan populasi dan cara-cara pemenuhan kebutuhan bahan makanannya membutuhkan kawasan hutan Mutis sebagai sumberdaya. Dalam situasi dilematis seperti ini kelestarian Cagar Alam (CA) hutan Mutis terancam karena pola penggunaan sumberdaya secara tradisional, antara lain penggembalaan bebas dan perladangan tebas bakar, dikhawatirkan menimbulkan entropi lingkungan.

Selasa, 16 Februari 2010

pasture, padang rumput, savanna dan rangeland (bahan mk. Tatalaksana Padang Pengembalaan Tropika)

Pasture

Pasture is land with vegetation cover used for grazing of livestock as part of a farm, or in ranching or other unenclosed pastoral systems or used by wild animals for grazing or browsing. Prior to the advent of factory farming, pasture was the primary source of food for grazing animals such as cattle and horses. It is still used extensively, particularly in arid regions where pasture land is unsuitable for any other agricultural production. In more humid regions, pasture grazing is exploited extensively for free range and organic farming.
Pasture growth can consist of grasses, legumes, other forbs, shrubs or a mixture. Soil type, minimum annual temperature, and rainfall are important factors in pasture management.

Rabu, 03 Februari 2010

UJIAN MK. ANALISIS STATISTIKA KELAS MAP (A DAN B) SERTA MPSAL

Tuan-tuan dan Puan-puan yang terhormat,

Silakan melihat soal ujian dengan cara meng-click- judul di bawah ini:

Akan muncul page dari www.mediafire.com. Nama file "Ujian-Statisika-1010_januari.docx" akan muncul pada bagian paling atas dan di bawahnya akan muncul tulisan "click here to start download". Silakan - click - di situ.
  1. Setelah itu akan ada pilihan "open with" atau "save file" dari menu yang disediakan software Download di komputer anda. Pilih salah satu dan clik OK.
  2. Selesai dan silakan membaca bahan kuliah dimaksud

Lalu ikuti petunjuk penyelesaian soal berikut ini:
  1. Setiap mahasiswa memiliki soal tersendiri dengan jalan mengubah angka di belakang tanda koma;
  2. Survai dapat dilakukan sendiri atau berkelompok. Jika dilakukan berkelompok maka data yang harus dimodifikasi begitu rupa sehingga tiap orang akan memiliki data tersendiri;
  3. Jawaban harap dikumpulkan paling lambat pada hari senin, tanggal 8 Februari 2010;
  4. Bagi yang belum jelas akan petunju soal, dapat bertemu dengan pengasuh MK pada hari jumat pukul 16.00 di Kampus Pasca Undana;
Hormat,

Dosen Pengasuh

DR. Ir. L. Michael Riwu Kaho, M.Si

Sabtu, 10 Oktober 2009

tugas pekerjaan rumah mk. analisis statistika MPSAL semester I, KELAS B

Perhatikan gugus data berikut ini :

80 70 67 62 69 60 67 60 63 68 72 90 70 75 59 77 62 69 60 72
65 56 54 65 59 55 71 85 70 70 58 62 57 54 55 73 60 60 64 72

Kerjakan:

  1. tentukan range (R);
  2. panjang kelas (p);
  3. banyak kelas (bk);
  4. Interval kelas;
  5. Tabel distribusi frekuensi;
  6. titik tengah (midpoint);
  7. Gambarkan histogram dari Tabel distribusi frekuensi;
  8. Gambarkan grafik berdasarkan midpoint;
  9. Buatkan frekuensi kumulatif dari tabe sebaran frekuensi;
  10. Apa yang dapat anda simpulkan jika data di atas merupakan data rata-rata hasil ujian mid mk. "analisis statistika".
Kumpulkan sebelum perkulahan dimulai pada hari senin, 12-10-2009, pukul 16.00 WITA

Senin, 05 Oktober 2009

respirasi - fotorespirasi pada tumbuhan (bahan kuliah mk. ilmu tanaman makanan ternak)

Fotorespirasi

Fotorespirasi adalah sejenis respirasi pada tumbuhan yang dibangkitkan oleh penerimaan cahaya yang diterima oleh daun. Diketahui pula bahwa kebutuhan energi dan ketersediaan oksigen dalam sel juga mempengaruhi fotorespirasi. Walaupun menyerupai respirasi (pernafasan) biasa, yaitu proses oksidasi yang melibatkan oksigen, mekanisme respirasi karena rangsangan cahaya ini agak berbeda dan dianggap sebagai proses fisiologi tersendiri.

Proses

Proses yang disebut juga "asimilasi cahaya oksidatif" ini terjadi pada sel-sel mesofil daun dan diketahui merupakan gejala umum pada tumbuhan C3, seperti kedelai dan padi. Lebih jauh, proses ini hanya terjadi pada stroma dari kloroplas, dan didukung oleh peroksisom dan mitokondria.

Secara biokimia, proses fotorespirasi merupakan cabang dari jalur glikolat. Enzim utama yang terlibat adalah enzim yang sama dalam proses reaksi gelap fotosintesis, Rubisco (ribulosa-bifosfat karboksilase-oksigenase). Rubisco memiliki dua sisi aktif: sisi karboksilase yang aktif pada fotosintesis dan sisi oksigenase yang aktif pada fotorespirasi. Kedua proses yang terjadi pada stroma ini juga memerlukan substrat yang sama, ribulosa bifosfat (RuBP), dan juga dipengaruhi secara positif oleh konsentrasi ion Magnesium dan derajat keasaman (pH) sel. Dengan demikian fotorespirasi menjadi pesaing bagi fotosintesis, suatu kondisi yang tidak disukai kalangan pertanian, karena mengurangi akumulasi energi.

Jika kadar CO2 dalam sel rendah (misalnya karena meningkatnya penyinaran dan suhu sehingga laju produksi oksigen sangat tinggi dan stomata menutup), RuBP akan dipecah oleh Rubisco menjadi P-glikolat dan P-gliserat (dengan melibatkan satu molekul air menjadi glikolat dan P-OH). P-gliserat (P dibaca "fosfo") akan didefosforilasi oleh ADP sehingga membentuk ATP. P-glikolat memasuki proses agak rumit menuju peroksisoma, lalu mitokondria, lalu kembali ke peroksisoma untuk diubah menjadi serin, lalu gliserat. Gliserat masuk kembali ke kloroplas untuk diproses secara normal oleh siklus Calvin menjadi gliseraldehid-3-fosfat (G3P).

Kegunaan

Peran fotorespirasi diperdebatkan namun semua kalangan sepakat bahwa fotorespirasi merupakan penyia-nyiaan energi. Dari sisi evolusi, proses ini dianggap sebagai sisa-sisa ciri masa lampau (relik). Atmosfer pada masa lampau mengandung oksigen pada kadar yang rendah, sehingga fotorespirasi tidak terjadi seintensif seperti masa kini. Fotorespirasi dianggap bermanfaat karena menyediakan CO2 dan NH3 bebas untuk diasimilasi ulang, sehingga dianggap sebagai mekanisme daur ulang (efisiensi). Pendapat lain menyatakan bahwa fotorespirasi tidak memiliki fungsi fisiologis apa pun, baik sebagai penyedia asam amino tertentu (serin dan glisin) maupun sebagai pelindung klorofil dari perombakan karena fotooksidasi.

Karena tidak efisien, sejumlah tumbuhan mengembangkan mekanisme untuk mencegah fotorespirasi. Untuk menekan fotorespirasi, tumbuhan C4 mengembangkan strategi ruang dengan memisahkan jaringan yang melakukan reaksi terang (sel mesofil) dan reaksi gelap (sel selubung pembuluh, atau bundle sheath). Sel-sel mesofil tumbuhan C4 tidak memiliki Rubisco. Strategi yang diambil tumbuhan CAM bersifat waktu (temporal), yaitu memisahkan waktu untuk reaksi terang (pada saat penyinaran penuh) dan reaksi gelap (di malam hari).

Kamis, 01 Oktober 2009

bahan kuliah mk. PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASi (2)

  1. Pelajari bahan kuliah minggu ini, diskusikan serta bandingkan dengan jawaban anda minggu lalu;
  2. Kerjakanlah tugas berikut ini: "Konservasi dalam pengertian sekarang, sering diterjemahkan sebagai the wise use of nature resource (pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana)". Kalimat ini ada di dalam naskah bahan kuliah yang saya berikan di bawah. Coba anda jelaskan dengan menggunakan pemahakan anda sendiri, apa yang dimaksudkan dengan a) pemanfaatan SDA secara bijaksana; b) Berdasarkan nalar anda pada butir (a), jelaskan pendapat anda tentang kasus komodo yang dipindahkan ke Bali.
  3. Kumpulkan secara perorangan melalui kolom komentar di blog ini juga.

Jumat, 25 September 2009

bahan kuliah mk. PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI

Peserta kuliah mk Pengelolaan Kawasan Konservasi dapat membaca bahan kuliah berikut ini yang berisikan beberapa pengertian tentang "kawasan konservasi", beberapa landasan hukumnya dan contoh beberapa buah kawasan konservasi yang berada di NTT. Pada bagian akhir diberikan juga beberapa data keadaan konservasi sumberdaya alam di Indonesia serta beberapa hal yang berkaitan dengan upaya pengelolaan kawasan konservasi.

Ikuti langkah-langkah berikut ini untuk dapat membaca bahan kuliah dimaksud.

Rabu, 26 Agustus 2009

SAP MK Teknik Penelitian Tanaman Makanan Ternak (FAPET-UNDANA)

SAP MK TEKNIK PENELITIAN TANAMAN

1. Pertumbuhan Tanaman

1.1. Defenisi, Hasil dan Proses pertumbuhan

1.2. Sistem tanaman:

1.2.1. tingkat molekuler
1.2.2. tingkat tanaman
1.2.3. model tanaman

1.3. Organisasi tubuh tanaman dan sifat-sifat tanaman

2. Keragaman dan Lingkungan Tanaman

2.1. Keragaman pertumbuhan

2.1.1. faktor genetik
2.1.2. faktor lingkungan
2.1.3. pengaruh masa lalu
2.1.4. Bahan tanaman

2.2. Tanggap tanaman

2.2.1. bentuk tanggapan
2.2.2. interaksi

2.3. Pengelolaan tanaman

2.3.1. pengaturan tanaman
2.3.2. pemeliharaan

3. Pengamatan pertumbuhan

3.1. sasaran pengamatan: ukuran sel, biomassa, daun, tinggi tanaman, akar, morfologi tanaman, fenologi tanaman;
3.2. Sampel pengamatan: ukuran sampel, waktu panen, prosedur pengamatan
3.2. pemeriksaaan data

4. Analisis tanaman

4.1. analisis individu tanaman : laju pertumbuhan, biomassa, pengukuran daun, pengukuran akar. bioenergi tanaman.
4.2. Analisis komunitas tanaman: laju pertumbuhan komunitas, indeks tanaman, ratio akar : daun, fenologi tanaman.

5. kompetisi tanaman:

5.1. pengertian kompetisi tanaman dan faktor kompetisi
5.2. analisis kompetisi: intra spesies, inter spesies

6. desain penelitian tanam

6.1. pemilihan lokasi dan heterogenitas tanah
6.2. kesalahan dalam penelitian
6.3. penarikan contoh dalam petak penelitian
6.4. pemilihan desain yang sesuai

Selasa, 11 Agustus 2009

PENGUMUMAN UNTUK MAHASISWA PERWALIAN

Kupang, 10 - 08 - 2009

Dengan ini saya mengumumkan kepada mahasiswa Fakultas Peternakan Jurusan Nutrisi dan Makan Ternak yang bernama seperti di bawah ini di bawah ini:

1. Helena Medho
2. Hendrikus Nio
3. Ferdiyup. S. Wada
4. Fransiskus Mamu Kerans
5. Friance Halena Ndun

bahwa,

  1. KHS saudara untuk semester genap sudah saya ambil dari Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak;
  2. Saudara dapat menghubungi saya di kampus atau di rumah dan sepanjang saya tidak dalam acara tertentu kita dapat melakukan evaluasi hasil studi dan konsultasi rencana studi;
Demikian untuk dimaklumi,

Hormat saya,

DR. Ir. L. Michael Riwu Kaho, M.Si

Minggu, 21 Juni 2009

mispersepsi tentang savana (bahan untuk perbaikan nilai akhir MK. Tatalakasana Padang Rumput Tropika dan Sistem Agroforestri)

Kata savanna memang eksotis tetapi sekaligus menimbulkan banyak mispersepsi. Sebagian pakar mengaggap bahwa savana adalah hutan yang rusak. Sebuah tulisan di www.kabarindonesia.com menyebuktakn begini...Pemandangan hutan savana di Mamboro, Kabupaten Sumba Barat, NTT terlihat kering dan gersang dimusim kemarau. Hujan tidak turun sejak bulan Mei 2008 sampai sekarang (September 2008), walaupun demikian banyak mata air yang terus mengalir sepanjang tahun di lembah untuk mencukupi kebutuhan air warga setempat. Sebagian menganggap bahwa savana adalah hamparan padang rumput belaka.

Coba perhatikan gambar berikut ini yang diambil dari kawasan Mamboro, Sumba Barat, NTT dan kawasan Bromo, Jawa Timur.





Mispersepsi umum seperti di atas tampak juga di dalam sebuah puisi berikut ini,

NYANYIAN PADANG SAVANA

by ponco

lembah berhias lembayung senja
dengan hamparan padang savana
kulihat anggun molek jelita
memacu kuda dengan gagahnya

disaat melintas dirona kagumku
senyuman manis merasuk dikalbu
sedang gerai rambutnya yang mewangi
tinggalkan gelora dahana asmara

aduhai rona pesona......................
siapa gerangan anggun molek jelita?
kuingin rengkuh pinggang rampingnya
kududukan kepelana kudaku si raja

dikala lamunanku telah sirna
tinggal hamparan padang savana
membuat batinku lirih berbisik
kutunggu senja dikau disini

*) dahana = api
.... lirih = pelan

Pertanyaan" di mana letak kesalahan persepsi awam tentang savana dan dapatkan anda melakukan koreksi?